Banyak orang mengira rasa lemas
saat puasa berarti tubuh “tidak kuat”. Padahal, secara medis, kondisi ini
adalah bagian dari proses adaptasi metabolisme.
Tubuh yang biasanya menerima
asupan makanan setiap beberapa jam, tiba-tiba harus bertahan tanpa kalori
selama lebih dari 12 jam. Perubahan ini memicu sejumlah mekanisme biologis yang
memengaruhi energi.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh?
![]() |
| Ilustrasi Orang yang sedang menjalan puasa dengan keadaan semangat dan lemas |
Penurunan Kadar Gula Darah
Glukosa adalah
sumber energi utama tubuh. Saat puasa, kadar gula darah akan menurun karena
tidak ada asupan baru.
Menurut
penelitian yang dipublikasikan melalui National Institutes of Health, tubuh
akan beralih menggunakan cadangan glikogen dan lemak sebagai sumber energi
setelah beberapa jam tanpa makan.
Namun, pada fase
awal adaptasi, penurunan gula darah dapat menyebabkan:
- Lemas
- Pusing
- Sulit konsentrasi
- Mudah mengantuk
Dehidrasi Ringan
Rasa lemas
sering kali bukan karena kurang makan, tetapi karena kurang cairan.
Selama puasa,
tubuh tidak mendapatkan asupan air selama berjam-jam. Jika saat sahur dan
berbuka tidak cukup minum, tubuh mengalami dehidrasi ringan.
World Health
Organization menekankan pentingnya keseimbangan cairan untuk menjaga tekanan
darah, fungsi otak, dan metabolisme tetap optimal.
Gejala dehidrasi
ringan meliputi:
- Sakit kepala
- Bibir kering
- Lemas
- Penurunan fokus
Kurang Tidur
Saat Ramadhan
Bangun sahur dan
ibadah malam sering membuat waktu tidur berkurang.
Kurang tidur
dapat menurunkan produksi hormon yang mengatur energi dan konsentrasi.
Akibatnya, tubuh terasa lebih cepat lelah meski asupan makanan cukup.
Pola Makan yang Tidak Seimbang
Sahur dengan
karbohidrat sederhana tanpa protein dan serat menyebabkan energi cepat habis.
Sebaliknya,
konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka dapat menyebabkan lonjakan gula darah
yang kemudian turun drastis (sugar crash), sehingga tubuh terasa semakin lemas.
Apakah Lemas Saat Puasa Itu Normal?
Pada 2–3 hari pertama Ramadhan,
rasa lemas relatif normal karena tubuh sedang beradaptasi. Namun jika disertai:
- Pusing berat
- Jantung berdebar
- Keringat dingin
- Pingsan
Maka perlu evaluasi medis, terutama
bagi penderita diabetes atau penyakit kronis.
Cara Mengatasi Cepat Lemas Saat Puasa
1. Pilih Karbohidrat Kompleks Saat Sahur: Oat, nasi merah, ubi, dan gandum utuh membantu energi bertahan lebih lama.2. Tambahkan Protein: Telur, ikan, tempe, atau kacang-kacangan memperlambat pengosongan lambung.
3. Cukupi Cairan 6–8 Gelas: Gunakan pola 2-2-2-2 (berbuka, setelah tarawih, sebelum tidur, sahur).
4. Atur Tidur Minimal 6 Jam: Boleh ditambah power nap 20 menit di siang hari.
5. Hindari Minuman Manis Berlebihan: Gula berlebihan justru membuat energi tidak stabil.
Lemas Bukan Berarti Lemah
Puasa adalah proses adaptasi.
Tubuh sebenarnya sangat cerdas dalam menyesuaikan diri.
Jika
dilakukan dengan pola makan dan istirahat yang tepat, puasa justru dapat
meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki metabolisme, dan membantu
pengendalian berat badan.
Ramadhan
bukan tentang menahan diri sampai jatuh sakit, tetapi tentang menjaga
keseimbangan.
Daftar Pustaka
- National Institutes of Health. Effects of fasting on metabolism and energy balance.
- World Health Organization. Hydration and healthy diet guidance.
- Mattson, M.P. et al. (2019). Intermittent fasting and health. New England Journal of Medicine.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang.

.png)