Memasuki hari ke-14 Ramadhan, momen pertengahan bulan puasa, sebagian orang mulai terkejut melihat angka timbangan yang justru naik. Padahal logikanya sederhana. Tidak makan dan minum lebih dari 12 jam seharusnya membuat tubuh membakar lemak. Namun kenyataannya, angka timbangan malah bertambah.
Lalu, apa yang
sebenarnya terjadi?
Apakah puasa gagal menurunkan berat badan? Atau ada pola yang keliru selama Ramadhan?
![]() |
| Berat badan naik saat puasa karena konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan |
Metabolisme Saat
Puasa: Harusnya Membakar Lemak
Secara fisiologis, setelah 8–12 jam tanpa asupan makanan, tubuh mulai menggunakan cadangan glikogen, lalu beralih membakar lemak sebagai sumber energi. Penelitian yang dipublikasikan melalui National Institutes of Health menjelaskan bahwa puasa intermiten dapat meningkatkan penggunaan lemak sebagai bahan bakar dan memperbaiki sensitivitas insulin.
Artinya, secara teori, puasa bisa membantu penurunan berat badan. Namun teori ini hanya berlaku jika pola makan setelah berbuka tidak berlebihan.
Lonjakan Kalori Saat Malam Hari
Masalah terbesar
bukan pada siang hari, tetapi setelah azan Maghrib.
Beberapa
kebiasaan yang sering terjadi:
- Minuman manis tinggi gula
- Gorengan dalam jumlah banyak
- Porsi makan berlebihan
- Camilan setelah tarawih
- Makan berat mendekati waktu tidur
Tanpa disadari,
total kalori malam hari bisa melebihi kebutuhan harian. Akibatnya,
defisit kalori yang terjadi di siang hari malah tertutup dan bahkan berlebih di malam
hari.
Efek “Balas Dendam” Makan
Setelah menahan
lapar seharian, kontrol diri sering melemah saat berbuka.
Secara
psikologis, tubuh dan otak cenderung mencari makanan tinggi gula dan lemak
karena cepat meningkatkan dopamin (hormon rasa senang). Inilah yang
membuat takjil manis terasa “sangat nikmat” dan sulit dibatasi.
Kurang Tidur Mengganggu Hormon Berat Badan
Kurang tidur di bulan Ramadhan meningkatkan hormon ghrelin (pemicu rasa lapar) dan menurunkan leptin (hormon kenyang) yang mengakibatkan:
- Nafsu makan meningkat
- Keinginan makanan manis bertambah
- Metabolisme melambat
- Kondisi ini
memperbesar peluang kenaikan berat badan.
Kurang Minum Bikin Tubuh Salah Sinyal
Menurut World
Health Organization, dehidrasi ringan dapat memengaruhi metabolisme dan
rasa lapar.
Tubuh sering
kali salah mengartikan haus sebagai lapar. Akibatnya, kita makan lebih banyak
padahal sebenarnya hanya kekurangan cairan.
Evaluasi Diri di Pertengahan Ramadhan
Coba evaluasi diri dengan menjawab
jujur pernyataan sederhana ini:
- ☐ Setiap berbuka selalu minum manis
- ☐ Konsumsi gorengan hampir setiap hari
- ☐ Makan besar lebih dari dua kali malam hari
- ☐ Tidur kurang dari 6 jam
- ☐ Minum kurang dari 6 gelas per hari
Jika 3 atau
lebih tercentang, kemungkinan besar itu penyebab berat badan naik saat puasa.
Masih Ada Waktu untuk Reset
Ramadhan belum
selesai. Masih ada sekitar 15–20 hari untuk memperbaiki pola.
Langkah Praktis:
Mulai Buka
dengan Air & Kurma Secukupnya: Beri jeda sebelum makan besar.
Batasi
Minuman Manis: Pilih air putih, infused water, atau teh tawar hangat.
Gunakan Pola
Piring Seimbang:
- ½ sayur & buah
- ¼ protein
- ¼ karbohidrat kompleks
Atur Waktu
Tidur: Targetkan minimal 6 jam total.
Hindari Makan
Mendekati Waktu Tidur
Ramadhan adalah Momentum Disiplin
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi melatih pengendalian diri. Jika berat badan naik saat puasa, itu bukan kesalahan puasa. Itu sinyal bahwa pola makan dan istirahat perlu diperbaiki.
Pertengahan Ramadhan
adalah waktu terbaik untuk evaluasi. Masih ada
kesempatan untuk mendapatkan akhir Ramadhan yang lebih sehat.
Daftar Pustaka
- National Institutes of Health. Intermittent Fasting and Metabolic Health.
- World Health Organization. Healthy diet and hydration guidance.
- Mattson, M.P. et al. (2019). Intermittent fasting and metabolic switching. New England Journal of Medicine.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang.

.png)