Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit infeksi menular yang masih menjadi masalah kesehatan besar di Indonesia. Meskipun sudah ada upaya penanggulangan dari pemerintah dan komunitas, data terbaru menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Dalam artikel ini, kita akan membahas fakta penting tentang TBC, tren kasus di tahun 2024-2025, serta bagaimana cara pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan agar kita dapat memahami risiko dan ikut berkontribusi dalam upaya menuntaskan TBC.
![]() |
| Ilustrasi penderita TBC sedang batuk dengan menutup mulut |
Apa Itu TBC (Tuberkulosis)
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang paling sering menyerang
paru-paru. Namun penyakit ini juga dapat menyerang organ lain, seperti otak, ginjal dan tulang belakang. Bakteri ini menyebar
melalui udara ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.
Tren Terbaru Kasus TBC di Indonesia (2024–2025)
Menurut Global TB Report dan Kementerian Kesehatan, estimasi kasus TBC di Indonesia berada di kisaran 1,09 juta kasus per tahun. Pada 2024, laporan dari Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa 81% dari estimasi kasus berhasil diidentifikasi, meskipun targetnya adalah 90%. Studi inventori TB Indonesia (2023–2024) melaporkan angka kejadian sekitar 1.082.000 kasus jika di hitung perjumlah penduduk ada sekitar 388 per 100.000 penduduk, artinya penyakit TBC masih banyak di temukan di indonesia.
Contoh Kasus (November 2025)
- Di Provinsi Sulawesi Barat, capaian penemuan kasus TBC per 2 November 2025 tercatat 64,3% dari estimasi 5.051 kasus. (BeritaSulbar)
- Khusus di Kota Mamuju (Sulbar), capaian tertinggi yakni 97,4%. (BeritaSulbar)
- Di DKI Jakarta, per 10 November 2025, dari 323.796 orang yang diperiksa bergejala, tercatat 49.152 kasus TBC. (Jakarta)
- Dari kasus tersebut di Jakarta, 90% pasien telah memulai pengobatan, namun tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat tahun 2024 hanya 76%. (Jakarta)
Bagaimana Tanda Gejala & Penularan TBC
Beberapa gejala
TBC paru yang paling umum:
- Batuk lebih dari 2-3 minggu
- Dahak (kadang berdarah)
- Nyeri dada
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Keringat malam
- Demam ringan berkepanjangan
- Kelelahan
Penularan
terjadi terutama lewat droplet udara atau percikan kecil yang terbang saat batuk, bersin. Penting untuk mendeteksi
dini agar bisa segera diobati dan mencegah penularan ke orang lain.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat
- Kenali gejala TBC sedini mungkin dan periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika batuk berkepanjangan.
- Dukung program skrining, terutama di komunitas lokal atau lingkungan berisiko tinggi.
- Edukasi keluarga dan tetangga tentang TBC agar stigma berkurang.
- Pastikan ventilasi ruang di rumah baik aliran udara yang bagus membantu mengurangi risiko penularan.
- Dukung gizi baik dan gaya hidup sehat agar daya tahan tubuh kuat.
TBC masih menjadi tantangan besar di Indonesia meski sudah banyak kemajuan dalam deteksi dan pengobatan. perlu keterlibatan semua pihak baik pemerintah, komunitas, dan masyarakat umum. Dengan edukasi, deteksi dini, dan dukungan berkelanjutan, kita bisa bersama-sama menekan angka TBC di Indonesia.
Sumber
- Kementerian Kesehatan RI, “Indonesia’s Movement to End TB.” (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- Kementerian Kesehatan RI, “Aksi Nyata Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia.” (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- ANTARA News, “81% of TB cases successfully detected in 2024: ministry.” (ANTARANews)
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Kasus TBC Tinggi Karena Perbaikan Sistem Deteksi dan Pelaporan.” (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- Kementerian Kesehatan RI, Laporan Hasil Studi Inventori Tuberkulosis Indonesia 2023-2024 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- ANTARA News, “Ada 5000-an kasus TBC di Sulbar.” (Antara NewsMakassar)
- Siaran Pers Pemprov DKI Jakarta, “Data TBC per 10 November 2025.” (Jakarta)

.png)