Masalah Kesehatan yang Harus Di Waspadai Ketika Musim Hujan dan Banjir

Hadi M Assegaf
0

Musim hujan dan banjir bukan hanya membawa genangan air, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai masalah kesehatan yang sering datang diam-diam setelah bencana berlalu. Saat perhatian mulai beralih ke pemulihan fisik lingkungan, ancaman kesehatan justru kerap muncul tanpa banyak disadari.

Air bisa surut, tetapi bakteri, virus, dan vektor penyakit sering kali tertinggal dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang lembap dan tidak sepenuhnya bersih.

Hujan dan Banjir

Masalah Kesehatan yang Sering Terjadi

1. Penyakit yang Ditularkan Melalui Air

Air banjir sangat berpotensi tercemar oleh limbah manusia, hewan, dan bahan berbahaya lainnya. Konsumsi atau kontak dengan air tercemar dapat memicu penyakit seperti diare, demam tifoid, kolera, dan leptospirosis.

Penyakit ini sering muncul beberapa hari hingga minggu setelah banjir, ketika masyarakat mulai merasa kondisi sudah aman dan normal kembali.


2. Penyakit yang Ditularkan oleh Nyamuk

Genangan air pascahujan dan banjir menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Akibatnya, risiko demam berdarah dengue dan penyakit vektor lainnya meningkat secara signifikan.

Ironisnya, ancaman ini sering muncul justru setelah genangan air mulai berkurang dan pengawasan lingkungan mulai melemah.


3. Infeksi Saluran Pernapasan

Kelembapan tinggi, suhu dingin, serta paparan lingkungan yang kurang higienis dapat menurunkan daya tahan tubuh. Kondisi ini memicu meningkatnya kasus batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia biasanya mengalami dampak yang lebih berat dan berkepanjangan.


4. Penyakit Kulit

Kontak berulang dengan air kotor dan lingkungan lembap dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, mulai dari infeksi jamur, dermatitis, hingga luka yang sulit sembuh.

Walau sering dianggap sepele, gangguan kulit dapat menjadi pintu masuk infeksi yang lebih serius jika tidak ditangani dengan baik.


5. Dampak Kesehatan Jangka Menengah dan Panjang

Berbagai studi menunjukkan bahwa dampak kesehatan banjir tidak berhenti pada fase akut. Risiko penyakit kronis, gangguan pernapasan, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan mental dapat meningkat dalam jangka menengah dan panjang.

Dengan kata lain, ketika situasi tampak sudah pulih, masalah kesehatan justru bisa berada pada fase awal perkembangannya.


Kerentanan

Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah merupakan kelompok yang paling rentan terdampak.

Dalam kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih, kelompok ini sering mengalami komplikasi kesehatan lebih cepat dan lebih berat.


Kesimpulan

Musim hujan dan banjir bukan sekadar persoalan cuaca dan genangan air. Ia membawa risiko kesehatan yang dapat bertahan jauh setelah air surut dan perhatian publik berpindah.

Kesiapsiagaan kesehatan, kebersihan lingkungan, serta respons yang tepat terhadap gejala awal penyakit menjadi kunci utama untuk mencegah dampak yang lebih luas. Karena sering kali, yang terlambat ditangani bukan bencananya, melainkan dampak kesehatannya.


Sumber

  1. World Health Organization (WHO). Flooding and Health Risks.
  2. World Health Organization (WHO). Environmental Health in Emergencies.
  3. WHO. Water-borne Diseases.
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Health Risks After Flooding.
  5. CDC. Dengue and Climate Factors.
  6. World Health Organization. Vector-borne Diseases.
  7. Kementerian Kesehatan RI. Penyakit Musim Hujan.
  8. Alodokter. ISPA dan Faktor Lingkungan.
  9. WHO. Skin Diseases in Flood-Affected Areas.
  10. Halodoc. Penyakit Kulit Akibat Lingkungan Kotor.
  11. European Environment Agency (EEA). Health Impacts of Flooding.
  12. IPCC. Climate Change and Health.
  13. WHO. Vulnerable Groups in Disasters.
  14. Kementerian Kesehatan RI. Kelompok Rentan Pascabencana.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)