Musim hujan dan banjir bukan hanya membawa genangan air, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai masalah kesehatan yang sering datang diam-diam setelah bencana berlalu. Saat perhatian mulai beralih ke pemulihan fisik lingkungan, ancaman kesehatan justru kerap muncul tanpa banyak disadari.
Air bisa surut, tetapi bakteri, virus, dan vektor penyakit sering kali tertinggal dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang lembap dan tidak sepenuhnya bersih.
![]() |
| Hujan dan Banjir |
Masalah Kesehatan yang Sering Terjadi
1. Penyakit yang Ditularkan Melalui Air
Air banjir
sangat berpotensi tercemar oleh limbah manusia, hewan, dan bahan berbahaya
lainnya. Konsumsi atau kontak dengan air tercemar dapat memicu penyakit seperti
diare, demam tifoid, kolera, dan leptospirosis.
Penyakit ini
sering muncul beberapa hari hingga minggu setelah banjir, ketika masyarakat
mulai merasa kondisi sudah aman dan normal kembali.
2. Penyakit yang Ditularkan oleh Nyamuk
Genangan air
pascahujan dan banjir menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Akibatnya, risiko demam berdarah dengue dan penyakit vektor lainnya meningkat
secara signifikan.
Ironisnya,
ancaman ini sering muncul justru setelah genangan air mulai berkurang dan
pengawasan lingkungan mulai melemah.
3. Infeksi Saluran Pernapasan
Kelembapan tinggi, suhu dingin, serta paparan
lingkungan yang kurang higienis dapat menurunkan daya tahan tubuh. Kondisi ini
memicu meningkatnya kasus batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA).
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia
biasanya mengalami dampak yang lebih berat dan berkepanjangan.
4. Penyakit Kulit
Kontak berulang
dengan air kotor dan lingkungan lembap dapat menyebabkan berbagai masalah kulit,
mulai dari infeksi jamur, dermatitis, hingga luka yang sulit sembuh.
Walau sering
dianggap sepele, gangguan kulit dapat menjadi pintu masuk infeksi yang lebih
serius jika tidak ditangani dengan baik.
5. Dampak Kesehatan Jangka Menengah dan Panjang
Berbagai studi menunjukkan bahwa dampak kesehatan
banjir tidak berhenti pada fase akut. Risiko penyakit kronis, gangguan
pernapasan, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan mental dapat
meningkat dalam jangka menengah dan panjang.
Dengan kata lain, ketika situasi tampak sudah pulih, masalah kesehatan justru bisa berada pada fase awal perkembangannya.
Kerentanan
Tidak semua
orang memiliki tingkat risiko yang sama. Anak-anak, lansia, ibu hamil,
penderita penyakit kronis, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah
merupakan kelompok yang paling rentan terdampak.
Dalam kondisi
lingkungan yang belum sepenuhnya pulih, kelompok ini sering mengalami
komplikasi kesehatan lebih cepat dan lebih berat.
Kesimpulan
Musim hujan dan
banjir bukan sekadar persoalan cuaca dan genangan air. Ia membawa risiko
kesehatan yang dapat bertahan jauh setelah air surut dan perhatian publik
berpindah.
Kesiapsiagaan
kesehatan, kebersihan lingkungan, serta respons yang tepat terhadap gejala awal
penyakit menjadi kunci utama untuk mencegah dampak yang lebih luas. Karena
sering kali, yang terlambat ditangani bukan bencananya, melainkan dampak
kesehatannya.
Sumber
- World Health Organization (WHO). Flooding and Health Risks.
- World Health Organization (WHO). Environmental Health in Emergencies.
- WHO. Water-borne Diseases.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Health Risks After Flooding.
- CDC. Dengue and Climate Factors.
- World Health Organization. Vector-borne Diseases.
- Kementerian Kesehatan RI. Penyakit Musim Hujan.
- Alodokter. ISPA dan Faktor Lingkungan.
- WHO. Skin Diseases in Flood-Affected Areas.
- Halodoc. Penyakit Kulit Akibat Lingkungan Kotor.
- European Environment Agency (EEA). Health Impacts of Flooding.
- IPCC. Climate Change and Health.
- WHO. Vulnerable Groups in Disasters.
- Kementerian Kesehatan RI. Kelompok Rentan Pascabencana.

.png)